LACAK KRIMINAL.COM
ROKAN HULU, – Kami sedang istirahat di barak. Tiba-tiba datang sekelompok orang… situasi langsung kacau,” suara Adi bergetar saat mengenang petaka Sabtu (7/2) sore itu
Adi adalah satu dari sekian banyak pekerja yang harus berlari menembus rimbun sawit di Dusun IV Rintis, Desa Sontang, demi menghindari maut.
Di sela nafas yang memburu, ia menyaksikan bagaimana ketenangan barak pekerja di lahan eks PT Berkat Satu berubah menjadi medan pertempuran dalam hitungan detik.
Kelompok yang mendatangi mereka diduga kuat merupakan bagian dari pengamanan mitra KSO PT Agrinas Palma Nusantara (APN).
Bom Waktu Sengketa Sawit Rokan Hulu Meledak: Satu Tewas, Barak Menjadi Medan Tempur
“Kami berusaha menyelamatkan diri lewat bagian belakang barak,” tambahnya. Namun, tidak semua seberuntung Adi. Satu nyawa melayang, dan lima lainnya tumbang bersimbah darah.
Laporan ‘Pembunuhan Berencana’ Masuk Meja Polisi
Tragedi ini berbuntut panjang. Tak butuh waktu lama bagi para pekerja koperasi dari tiga desa—Desa Sontang, Desa Kasang Padang, dan Desa Pauh—untuk bereaksi.
Ahad (8/2), mereka resmi menyeret insiden ini ke jalur hukum. Laporan polisi dengan nomor STTLP/B/7/II/2026/SPKT/POLSEK BONAI DARUSSALAM telah diterbitkan.
Tuduhannya tidak main-main: penganiayaan berat hingga dugaant pembunuhan berencana.
“Kami melaporkan kejadian ini agar ada kejelasan hukum. Kami berharap aparat profesional memberikan keadilan bagi korban dan keluarga,” tegas Yulius Haki, perwakilan pekerja koperasi sekaligus pelapor.
12 Terduga Pelaku Diamankan, Polisi Bidik Aktor Intelektual
Merespons eskalasi yang kian memanas, Polres Rokan Hulu bergerak cepat. Hingga Ahad sore, sebanyak 12 orang terduga pelaku telah digelandang ke markas kepolisian untuk menjalani pemeriksaan intensif.
Kasat Reserse Kriminal Polres Rokan Hulu, AKP Tony Prawira, memastikan pihaknya tidak akan pandang bulu. “Kami telah mengamankan sejumlah terduga pelaku dan saat ini masih melakukan pendalaman. Seluruh pihak yang terlibat akan diproses sesuai ketentuan hukum,” ujar Tony dengan nada tegas.
Pemeriksaan ini menjadi krusial untuk mengungkap apakah serangan tersebut merupakan aksi spontan atau serangan terstruktur yang diperintahkan oleh pihak tertentu.
Ultimatum untuk PT Agrinas Palma Nusantara
Konflik ini kini bergeser ke meja perundingan, namun dengan tensi yang tetap tinggi. Camat Bonai Darussalam menjadwalkan pertemuan darurat pada Selasa (10/2).
Tuntutan warga dan koperasi sudah bulat: PT Agrinas Palma Nusantara (APN) harus segera memutus rantai kerja sama dengan PT Nusantara Sawit Majuma (NSM) sebagai mitra KSO.
Jika tuntutan evaluasi total ini diabaikan, masyarakat mengancam akan melakukan aksi massa besar-besaran di areal perkebunan hingga mengepung Kantor PT APN Regional Riau 2.
Darah yang Terus Mengalir di Tanah Negara
Insiden ini adalah luka kedua yang menganga dalam waktu kurang dari 30 hari di lokasi yang sama. Januari lalu, tujuh orang sudah lebih dulu tumbang diterjang peluru dalam pengecekan lahan yang berujung anarki.
Terulangnya kekerasan ini menegaskan sebuah fakta pahit: status lahan yang dikuasai kembali oleh negara tidak serta-merta membawa kedamaian.
Di balik klaim legalitas dan hak pengelolaan, terdapat “bom waktu” sosial yang sewaktu-waktu meledak jika sinergi antara korporasi dan masyarakat akar rumput terus dipaksakan melalui moncong senapan dan sabetan parang.
Kini, publik menanti apakah Selasa esok akan melahirkan perdamaian, atau justru menjadi sumbu bagi ledakan konflik yang lebih besar di Rokan Hulu.
Jurnalis – Bt












