DAERAHINHIL

Penanganan Fluktuasi Harga Kelapa Inhil Masih Reaktif dan Tidak Berkelanjutan

58
×

Penanganan Fluktuasi Harga Kelapa Inhil Masih Reaktif dan Tidak Berkelanjutan

Sebarkan artikel ini
Share Now

LACAK KRIMINAL.COM

Penurunan harga kelapa bulat di Kabupaten Indragiri Hilir kembali memperlihatkan persoalan klasik dalam tata kelola komoditas perkebunan rakyat, yakni lemahnya konsistensi kebijakan pemerintah dalam mengawal stabilitas harga dan kesejahteraan petani. Fenomena ini tidak hanya mencerminkan gejolak pasar, tetapi juga mengindikasikan adanya problem struktural dalam pola respons kebijakan yang cenderung bersifat sporadis dan musiman.

perhatian pemerintah terhadap isu-isu strategis pertanian sering kali muncul hanya ketika terjadi gejolak harga yang sudah berdampak luas pada petani. Setelah isu mereda di ruang publik, keberlanjutan kebijakan dan pengawalan di lapangan cenderung melemah, sehingga tidak menghasilkan solusi yang sistemik.

BACA JUGA https://lacakkriminal.com/perkuat-ketahanan-pangan-polsek-tualang-tebar-8-000-bibit-ikan-patin-di-kampung-pinang-sebatang-barat/

Dalam perspektif kebijakan publik, pola semacam ini menunjukkan adanya gap antara agenda setting dan policy implementation. Pemerintah lebih sering bersifat reaktif dibandingkan proaktif dalam mengantisipasi fluktuasi harga komoditas. Akibatnya, petani berada dalam posisi paling rentan karena tidak adanya instrumen stabilisasi harga yang bekerja secara konsisten
bahwa pendekatan yang bersifat “musiman” dalam menangani isu pertanian berpotensi melemahkan kepercayaan publik terhadap komitmen negara dalam sektor agraria. Padahal, Indragiri Hilir sebagai salah satu sentra kelapa nasional membutuhkan kebijakan yang berbasis data, terukur, dan berorientasi jangka panjang, bukan sekadar respons administratif ketika krisis muncul ke permukaan.

Dari sudut pandang akademik, kondisi ini menuntut adanya reformulasi kebijakan tata niaga kelapa yang lebih integratif, termasuk penguatan sistem harga acuan, stabilisasi melalui kelembagaan petani, serta pengembangan industri hilir berbasis kelapa secara berkelanjutan. Tanpa itu, fluktuasi harga akan terus berulang dan menempatkan petani sebagai pihak yang paling dirugikan.

Dengan demikian, isu penurunan harga kelapa ini semestinya tidak diperlakukan sebagai isu insidental, melainkan sebagai indikator kegagalan sistemik yang membutuhkan komitmen politik dan kebijakan yang konsisten, bukan sekadar perhatian yang hadir secara musiman mengikuti tekanan publik. Mhd

Share Now