JAWA BARATPROVINSI

Penataan Gedung Sate Rp3,9 M Tuai Sorotan, Ini Penjelasan Dedi Mulyadi

286
×

Penataan Gedung Sate Rp3,9 M Tuai Sorotan, Ini Penjelasan Dedi Mulyadi

Sebarkan artikel ini
Share Now

LACAK-KRIMINAL.COM – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi buka suara soal penataan Gedung Sate yang menelan anggaran Rp3,9 miliar. Dedi menegaskan pekerjaan itu hanya menyasar area luar, bukan bangunan utamanya.

“Penataan hanya bagian luar Gedung Sate, karena itu bukan bangunan heritage. Itu sudah beberapa kali renovasi,” kata Dedi Mulyadi dikutip dari Kompas.com, Jumat (21/11/2025).

Dedi menyebut penataan dilakukan untuk membuat kawasan Gedung Sate lebih ramah lingkungan dan punya nilai filosofis.

Beberapa elemen yang diubah antara lain penggunaan paving block agar air lebih mudah terserap dan pembangunan pagar dengan makna simbolik.

“Bangunan itu harus punya makna, punya filosofi,” ujar Dedi.

Ia menyebut arsitek Sigit sebagai perancang yang dikenal sangat filosofis.

Dedi Mulyadi juga menilai bahwa anggaran Rp3,9 miliar relative kecil jika dibandingkan proyek pembangunan lain di Jawa Barat, seperti jalan, listrik, atau penataan sungai.

Anggaran penataan area Gedung Sate itu mencakup perencanaan DED, pembangunan gapura, hingga konstruksi pada area sekitar 4 hektare. Kawasan yang ditata mencakup lingkungan Gedung Sate, kantor Inspektorat, dan bangunan pendukung lain.

Dedi juga merinci luasan kawasan tersebut. Lahan Gedung Sate mencapai 29.700 meter persegi, sedangkan Gedung Setda A termasuk masjid dan gedung baru mencakup 23.150 meter persegi. Total luas kawasan mencapai 52.850 meter persegi.

Menurutnya, penataan perlu dilakukan karena Gedung Sate terlihat tidak selaras dengan bangunan sekitarnya.

“Saya melihat Gedung Sate sangat estetik, tapi lingkungan sekitarnya nggak match. Bangunan sekitar Gedung Sate itu tidak chemistry dengan Gedung Sate, jadi seolah-olah gedung itu berdiri sendiri,” ucapnya.

Dedi menggagas keselarasan desain seluruh bangunan agar kawasan itu kembali merepresentasikan simbol keberhasilan pembangunan.

“Gedung Sate itu simbol representasi keberhasilan pembangunan era zaman itu. Lalu kita renovasi kembali untuk menyesuaikan representasi keberhasilan pembangunan era zaman sekarang,” ujarnya.

Selain itu, desain arsitektur gapura baru mengadopsi filosofi nilai-nilai dari seluruh daerah di Jawa Barat, sebagai bentuk harmonisasi budaya dalam kawasan pemerintahan provinsi.(red)

Share Now